MRDLJ Part 5
H4AayYy *,* s4yA b4L1k L461 c3m4N-c3M4n :3 p4rT 5 nY4 dAt4n6 *o* 1ni p4rT t3rAkHiR LhO u,u AyYo0 d1b4cA yAcH :3
"engga mungkin."lirih Ojy.
"tadi gue ngeliat dengan jelas ada anak kecil yang kepalanya ditenggelemin di bak mandi ini. Tapi kenapa sekarang engga ada apa-apa. Gue engga ngerasain kalo disekitar sini ada hantu atau makhluk lain selain gue, Kepin, sama Panci."batin Ojy. Ia terdiam dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi itu.
"Jy, lo kenapa sih?"tanya Panci. Ojy membalikkan badannya. Dia menceritakan semua kejadian yang tadi dia lihat dari lubang kunci pintu makar mandi.
"lo jangan ngaco deh Jy."ujar Panci.
"engga kok Nci. Gue engga ngaco. Gue beneran liat itu tadi. Lo berdua denger suara kan tadi dari sini?"tanya Ojy. Kepin dan Panci saling berpandangan dan kemudian menggeleng lemah. Ojy menjadi semakin bingung.
"terus yang gue liat tadi apa?"tanya Ojy dalam hati.
"udahlah Jy, lebih baik kita cepet-cepet bersihin nih kamar mandi. Gue udah laper nih."desak Kepin. Ojy mengangguk. Mereka pun mulai membersihkan kamar mandi tersebut. Beberapa menit kemudian mereka menyelesaikan tugas mereka. Mereka pun pergi meninggalkan kamar mandi dan berjalan keruang makan. Disana sudah ada Shasha dan Dindin yang sudah duduk manis disana. Saat makan siang, tidak sedikitpun Ojy menyentuh jatah makannya.
"Jy.. Lo kenapa? Kok ga dimakan? engga enak ya?"tanya Shasha.
"engga kok sha. Gue cuma lagi kepikiran sama yang gue liat tadi."jawab Ojy.
"udah lah Jy. Mungkin lo cuma kecapekan aja, semalem kan lo engga tidur."ujar Panci.
"engga Nci. Gue engga kecapekan. Gue tau apa yang gue liat tadi dan itu nyata!"bantah Ojy.
"emang lo liat apa tadi Jy?"tanya Dindin. Ojy pun menceritakan kembali semua yang dia liat tadi di kamar mandi.
"hhmmm mungkin yang lo liat tadi itu visualisasi masa lalu Jy."ucap Kepin. Semuanya menoleh pada Kepin.
"vi...visualisasi masa lalu?"tanya Dindin. Kepin mengangguk.
"iya, maksudnya Ojy itu bisa ngeliat kejadian yang pernah terjadi di suatu tempat. Dia kayak ngerasa kayak berada di waktu kejadian itu. Cuma orang-orang tertentu aja yang tertentu aja yang punya kemampuan kayak Ojy."jelas Kepin.
"waaww.."komentar Panci.
"jadi.... Yang gue liat tadi masa lalu gitu?"tanya Ojy.
"yaa mungkin."jawab Kepin singkat.
- Malam harinya, setelah makan malam -
"duh.. kenyang perut gue. Eh, Sha abis ini enaknya ngapain ya?"tanya Kepin.
"tuh beresin meja makan."jawab Shasha.
"entar aja deh. Eh si Ojy mana?"tanya Kepin (lagi).
"tadi abis makan, dia langsung ke kamar itu."Shasha menunjuk kamar yang tadi dibersihkan oleh Kepin, Panci, dan Ojy.
"hah? Ngapain?"tanya Kepin.
"mana gue tau."jawab Shasha.
"yaudah deh gue samperin Ojy dulu ya. Takutnya dia ngalamin kejadian aneh lagi."ucap Kepin. Shasha mengangguk. Kepin beranjak dari tempat duduknya dan pergi menyusul Ojy.
Di kamar, tampak Ojy sedang berdiri mematung di depan dinding. Kepin memperhatikan dinding itu.
"lho? Tadi kan udah gue bersihin. Kok bercaknya tambah gede?"tanya Kepin. Ojy menoleh pada Kepin.
"ini engga akan bisa ilang Pin."jawab Ojy seraya menatap kembali dinding itu.
"kenapa??"tanya Kepin (entah kenapa si Kepin pengen gue bacok-_- nanya terus sih.__.v).
"karena dinding ini dulu menjadi saksi pembunuhan. Dan bercak itu adalah bekas yang ditinggalkan oleh kejadian itu. Lo inget sama foto yang kemaren ditemuin Panci?"jelas Ojy. Kepin mengangguk.
"disini, dikamar ini Ibu-Ibu yang ada di foto itu dibunuh. Dia dibunuh dengan cara dipukul habis-habisan dan kepalanya di benturkan ke dinding ini. Dinding yang ternyata bakal jadi saksi bisu dan meninggalkan tanda pembunuhan itu."lanjutnya. Kepin yakin, Ojy baru saja melihat masa lalu dikamar ini.
"pembunuhnya?"tanya Kepin. Ojy menggeleng lemah.
"gue engga tau."ucapnya. Tampak sedikit kekecewaan di wajah Kepin.
"sedikit lagi, misteri ini terungkap."batin Kepin.
"hhmmm yaudah, kita kumpul bareng yang lain aja yukk"ajak Kepin. Ojy mengangguk.
Di ruang tamu, Kepin menceritakan semua yang dilihat oleh Ojy.
"dan lo belom tau siapa pembunuhnya?"tanya Panci. Ojy menggeleng.
"tapi firasat gue bilang pembunuhnya adalah orang yang sama."jawab Ojy.
"gue bener-bener berharap misteri ini selesai secepatnya deh, gue udah bener-bener enek tau sama hantu._."ucap Dindin.
"engga lo doang Din. Kita juga mau misteri ini cepet selesai."balas Shasha.
"ajak Ojy ke halaman belakang......"tiba-tiba sebuah suara terdengar ditelinga Kepin. Ini bukan untuk yang pertama kalinya, sebelumnya pun Kepin pernah mendengar bisikan-bisikan aneh,tapi dia abaikan begitu saja. Tapi entah kenapa, kali ini Kepin percaya pada bisikan itu.
"Jy, mungkin lo bilang gue gila. Tapi tadi ada yang bisikin gue dan bilang kalo gue harus ajak lo ke halaman belakang sekarang juga."kata Kepin.
"ehmm gue percaya Pin sama lo. Ayo kita ke halaman belakang."Ojy segera bangkit dari duduknya.
"kita ikut ya."izin Shasha.
"jangan Sha, lo disini aja sama Dindin dan Panci."cegah Ojy. Kepin dan Ojy pergi ke halaman belakang. Sunyi, hanya kata itulah yang pas untuk menggambarkan suasana diluar. Tidak ada apa-apa disini, tapi itu menurut pandangan Kepin, tidak untuk Ojy. Ia melihat kejadian yang dulu pernah terjadi di halaman belakang ini. Pandangan Ojy tertuju pada atap rumah itu. Inilah adegan yang dilihat Ojy.
"Ayahh!! Jaangaan!!"teriak seorang cewe. Tiba-tiba saja orang yang dipanggil "Ayah" oleh si cewe tadi melempar tubuh cewe itu ke bawah. Si cewe pun berteriak.
"Bruugg!!"tubuh Cewe itu terhempas ke tanah. Darah segar mengucur dari kepala gadis itu. Selang beberapa detik kemudian, cewe itu meregang nyawa. Ojy menutup matanya. Ia tidak sanggup melihat apa yang ada di depannya sekarang.
"Pin, kita ke dalam sekarang. Gue udah tau siapa pembunuhnya."kata Ojy. Kepin mengangguk. Mereka pun kembali kedalam rumah.
"gimana?"tanya Panci.
"yaampun.. Muka lo pucat banget Jy."Komentar Dindin.
"gue ga apa-apa kok Din. Lo semua ga perlu tau apa yang gue liat dibelakang tadi. Yang penting gue udah tau siapa pembunuhnya."ucap Ojy.
"siapa Jy?"tanya Shasha.
"kepala keluarga dirumah ini."jawab Ojy singkat.
"maksud lo?"tanya Dindin.
"iya, orang yang dipanggil "ayah" dirumah ini."jawab Ojy. Seketika itu juga mereka terkejut.
"KDRT gitu?._."tanya Panci. Ojy mengangguk.
"jadi, hantu-hantu dirumah ini mau bales dendam sama...."kata-kata Dindin menggantung karena yang lain sudah menyambutnya dengan anggukan.
"tapi kenapa seorang ayah tega ngebunuh istri dan anak-anaknya?"tanya Shasha.
"gue juga engga tau."jawab Ojy. Tiba-tiba, mata Ojy menangkap sosok seorang wanita memakai baju terusan putih berjalan memasuki kamar yang ada di lantai bawah. Spontan Ojy berdiri dan mengikuti wanita itu.
"Jy..."panggil Shasha.
"ikut gue.."suruh Ojy. Yang lain pun mengikuti Ojy dari belakang.
"ngekkk!!"Ojy membuka pintu kamar itu. Ia melihat sosok itu menghilang di balik sebuah pintu tang ada dikamar itu. Pintu yang sebelumnya tidak bisa dibuka.
"ada apa dibalik pintu itu?"pikir Ojy.
"apa yang lo liat Jy?"tanya Dindin.
"dia masuk kesitu."Ojy menunjuk pintu itu.
"dia?"tanya Panci engga paham.
"yaa, eehhmm semacam hantu._."jawab Ojy.
"mungkin ada sesuatu di balik pintu itu yang berhubungan dengan ini semua."ucap Kepin. Ojy mengangguk.
"gue akan coba dobrak pintu ini."Ojy pun mendobrak pintu itu.
"Brrakk!!"Ojy mendobrak pintu itu. Ada sebuah ruangan yang sangat gelap dibalik pintu itu. Ojy melangkahkan kakinya masuk keruangan itu.
"Jy... gelap."keluh Dindin.
"iya bawel. Ini gue lagi nyari-nyari sakelar."tangan Ojy meraba-raba dinding. Saat sedang mencari sakelar, Ojy merasakan kakinya dipegang oleh sebuah benda yang ada dilantai. Diayunkan kakinya seketika itu juga sebuah benda yang tadi mencengkram kakinya terlepas. Beberapa kemudian, Ojy menemukan sakelarnya dan dengan segera menyalakan lampunya. Ojy melihat kearah lantai, mencari benda yang tadi mencengkram kakinya, tapi yang ada hanya sebuah kerangka tangan manusia yang sudah terpisah dari bagiannya yang lain.
Kepin terdiam saat melihat apa yang ada didepannya sekarang. Melihat tingkah aneh Kepin, yang lain pun akhirnya mengikuti arah pandang Kepin. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat yang ada dihadapan mereka.
"jadi... Ini sebabnya kenapa engga ada satu orang pun yang tau apa yang terjadi di rumah ini."ucap Kepin. di hadapan mereka kini ada 4 kerangka manusia. 3 kerangka tergeletak begitu saja dilantai, dan 1 lagi masih tergantung.
Mereka berlima memutuskan untuk mendekati kerangka itu. Shasha menemukan sebuah surat di lantai. Diambilnya surat yang berlumuran darah yang sudah mengering, tapi tulisan disurat itu masih dapat terbaca.
"heh. Gue nemu ini."seru Shasha. Yang lain pun menghampiri Shasha.
"surat apaan Sha?"tanya Panci.
"engga tau. Belom gue baca."ucap Shasha seraya membolak-balik kertas itu. Lalu Ia membacanya....
"Maafkan Ayah, Ayah tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk kalian. Ayah tahu kalian semua pasti akan meninggalkan Ayah yang sekarang sedang terlilit hutang. Maaf, Ayah benar-benar stress._. Ayah ingin kita berempat tetap bersama. Lebih baik kita bersama di alam sana. Ayah sayang kalian."
"pikirannya benar-benar picik ya. Dasar psikopat._."komentar Kepin.
"gilaa, ada aja ya seorang kepala keluarga yang kayak gitu."tambah Panci.
"jadi perkiraan kita salah. Hantu itu bukan ingin balas dendam. Tapi dia ingin kita menemukan mereka dan mecahin misteri ini."ucap Dindin. yang lain mengangguk, menyetujui ucapan Dindin.
- Keesokan Harinya..... -
ada sekitar 3 mobil polisi yang sudah bertengger(?) di depan rumah Panci. Mereka mulai melempar beberapa pertanyaan kepada Shasha, Panci, Kepin, Dindin, dan Ojy (demi tuh polisi ga sopan bet -_- masa dilempar._.). Kerangka satu keluarga itu kemudian diserahkan kepada polisi untuk diperiksa lebih lanjut. Panci mengusulkan untuk merekonstruksi ulang rumah itu dan menjadikannya sebagai Villa. Setelah semua urusan rumah itu selesai. Mereka pun menemui Ibu Niel, Niel, dan Senin.
"kita pamit mau pulang ke Jakarta yaa."pamit Ojy.
"lain kali datang lagi yaa."balas Niel.
"iya, kalo ada waktu kita kesini lagi kok."ucap Panci.
"hati-hati di jalan yaa.."kata Senin.
"iyaa, kita pamit dulu yaa. Makasih ya atas semua bantuannya selama kita disini."ucap Shasha dan berjalan menuju mobil Panci.
"hufftt, selesai juga misteri rumah itu."ucap Dindin.
"iyaa, kalo tau liburannya kayak gini gue engga ikut deh. ini sih bukan refreshing tambah stress iyaa"cerocos Kepin.
"hahaha, tapi seru kan? Ngeliat hantu yang kayak di film-film gitu."ledek Panci.
"seru idung lo semok, tersiksa banget nih gue. kenapa yang bisa ngeliat masa lalu itu gue, kenapa engga lo aja. Untung gue ga minum rasa-rasa ya, jadi gue ga stress duluan(?)"omel Ojy. Panci hanya tertawa.
"lo pada berisik banget woyy."omel Shasha.
"sirik aja lo. Iya deh tau yang paling stress wk"ledek Kepin.
"idih dia stress kenapa dah? Ga dapet tandatangan gue ya?"tanya Ojy -,-
"najesss._.v"seru Shasha.
"udah dong. Berisik banget sih lo. Gue pengen tidur nih."kata Dindin.
"mau dong ditidurin wk.__."ledek Kepin. Dindin hanya menatap Kepin jijik-_-v.
"gue tau kok kalo gue ganteng, tapi ga usah ngeliatin gue kayak gitu juga kali Din."narsis Kepin.
"tau aah. Eh Nci, nanti jangan lewat jalan yang kayak kemarin ya.. Enek gue ngeliat hantu terus."cerocos Dindin.
"oke sip deh haha."ucap Panci.
c13e c3rBuN6 nY4 uD4h s3L3s41 u,u In1 p4rT t3R4kH1r y4cH :3 g1m4N4 B46uS 3n66A? j3L3K yAcH? :o m4Af d3Ch m4aF u,u k3mUn6k1n4N 1nI t3rAkH1R k4L1 nY4 6u3 n63p0sT c3RbUn6 4tAu c3Rp3N y4cH u,u j4n6An k4n63N yAcHh S4mA 6u3 :3