Minggu, 31 Juli 2011

Misteri Rumah diLadang Jagung Part 3

Misteri Rumah Di Ladang Jagung Part 3-



Hallo pemirsah B) saya si cantik dari goa oenyoeh balik lagi u,u pasti pada kangen sama gue u,u ngaku aja deh._. Gue emang ngangenin kok B) oke, Tanpa bacot sana bacot sini takutnya nanti limit (?) langsung aja ya cekidott :3




"glek!"Shasha menelan ludahnya._. Ia benar-benar gemetar. Kepin memegang pundak Shasha. Gadis kecil di hadapan mereka menatap Ojy dengan pandangan kosong. Lalu, gadis itu berbalik dan menghilang di Halaman belakang.


"Pin, Jy, gue mau balik."ucap Shasha. Kepin dan Ojy pun mengangguk. Mereka pun masuk kembali kedalam rumah.



-Di Ruang Tamu-


"Sha, nih minum dulu."Ojy menyodorkan segelas air putih untuk Shasha. Shasha pun meminumnya. Ya memang kalau diliat-liat Shasha lah yang paling shock saat melihat hantu gadis kecil itu.

"maaf ya Sha, Pin. Gara-gara gue lo berdua jadi ketakutan gini."sesal Ojy.

"gue engga kenapa-napa kok, tapi itu si Shasha. Lo liat dong mukanya sampe pucat gitu."kata Kepin seraya melirik Shasha yang terdiam. Tiba-tiba Shasha menggeleng.

"engga kok, gue engga kenapa-napa."jawab Shasha. Keheningan terjadi di antara mereka. Tapi di dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kamar.

"Dindin??"Shasha, Kepin, dan Ojy berlari kearah kamar Dindin. di depan kamar itu sudah ada Panci yang terus mencoba membuka pintu kamar Dindin.

"Nci, ada apaan nih??"tanya Ojy.

"gue engga tau. Pintunya ke kunci nih."jawab Panci. Suara teriakan Dindin pun semakin menggelegar._.

"aduhh ga ada cara lain gitu biar pintunya bisa dibuka?"tanya Shasha panik.

"dobrak aja."saran Kepin.

"oke. Ga ada cara lain. Kita dobrak pintunya."jawab Ojy. Akhirnya Ojy dibantu Kepin pun mendobrak pintu kamar Dindin. Terlihat siluet yang baru saja menghilang. Dindin duduk bersandar di dinding kamarnya dengan wajah pucat dan nafas terengah-engah.

"Dindin.."seru Shasha. Ia menghampiri Dindin, dan diikuti Kepin, Panci, dan Ojy.

"tolong gue..."lirih Dindin. Ia memeluk Shasha.

"lo kenapa Din?"tanya Panci.

"ada..... Ada anak kecil... yang.... yang mau bu... bunuh gue..."jawab Dindin takut.

"kak, lo tolong ambilin air putih dong.."suruh Shasha. Panci mengangguk. Lalu dia keluar dari kamar dan menuju dapur.

"anak kecil?? Maksud lo??"tanya Kepin. Entah darimana datangnya firasat Kepin mengatakan bahwa anak kecil yang ingin membunuh Dindin itu adalah anak kecil yang dilihatnya bersama Shasha dan Ojy tadi.

"iyaa, anak kecil, cewe, kira-kira umurnya 6 tahun, dan....."

"Praanngg!!!!"cerita Dindin terhenti ketika mendengar suara sesuatu yang pecah. Dan suara itu berasal dari dapur.

"Kak Panci!!"Shasha segera berlari ke arah dapur. Kepin mengikuti dari belakang. Tampak Panci sedang berdiri mematung di depan meja makan.

"Kak Panci.."panggil Shasha. Shasha menghampiri Panci, dan memegang pundak sang Kakak, berharap tidak terjadi apa-apa dengan Kakaknya. Tapi tiba-tiba...........

"Shasha.."seru Kepin.

"ngek (?)"Shasha sangat terkejut. Tiba-tiba saja Panci mencekik leher Shasha. Ia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Panci dari lehernya tapi tidak bisa. Cengkeraman Panci terlalu kuat, bahkan untuk ukuran seorang cowo, karena Panci minumnya ga rasa-rasa(?).

"to.... Long._."rintih Shasha. Kepin yang melihat kejadian itu bingung harus berbuat apa. Dengan nekat, Ia mendekati Panci yang masih saja mencekik leher Shasha.

"sorry Nci, ga ada cara lain."Kepin memukul punggung Panci hingga Ia pingsan. Dan akhirnya, Shasha terlepas dari cekikan Panci. Shasha memegangi lehernya.

"Sha, lo engga kenapa-napa kan??"tanya Kepin. Shasha menggeleng lemas.

"engga kenapa-napa kok. thanks ya, udah nyelamatin gue. Gue yakin yang tadi itu bukan Ka Panci."ujar Shasha.

"maksud lo?? Panci kerasukan gitu??"tanya Kepin bingung.

"hhhmmm menurut gue ya begitu."Tak lama kemudian, Panci sadar. Shasha sedikit menjauhi Panci. Takut kalau-kalau Panci tiba-tiba mencekik lehernya lagi. Panci memegangi punggungnya.

"aaww sakit banget.."keluh Panci. Shasha dan Kepin saling berpandangan, lalu mengangguk, pertanda kalau mereka berdua sudah yakin Panci sudah tidak apa-apa.

"hmm lo ga apa-apa Nci?"tanya Kepin.

"engga apa-apa mata lo sipit! Engga liat apa punggung gue sakit banget ini.."omel Panci.

"ga usah nyinggung gue kali Nci. idung mendelep aja belagu lo Nci."omel Kepin dalam hati.

"sorry Nci, tadi gue terpaksa banget mukul lo."jujur Kepin.

"oh, jadi lo yang mukul gue. Lo dendam apa sih sama gue?? ohh atau jangan-jangan lo iri kan sama gue karena gue punya idung semok kayak begini?.-."cerocos Panci sambil menunjuk-nunjuk idungnya yang mendelep bagaikan idung sapi.-.v

"Kak, apa lo ga nyadar apa tadi lo itu nyekek gue tau."ujar Shasha.

"hah?? Nyekek lo?? Haha engga mungkin. Masa gue nyekek adek gue sendiri haha lucu lo."kata Panci sambil tertawa garing kriuk-kriuk kayak kerupuk. Ia melihat sekelilingnya. Ada pecahan gelas.

"lha?? Kok ini gelasnya pecah? Bukannya tadi gue mau ngambil minum buat Dindin ya?"tanya Panci. Shasha dan Kepin saling pandang lagi (si Kepin sering banget ngeliatin gue ya *-* dia kan Shashaddict :3).

"berarti bener. Lo kerasukan kak."ucap Shasha. Panci bergidik.-.

"kerasukan?? Maksud lo ada hantu gitu yang masuk ke badan gue??"tanya Panci engga yakin. Shasha mengangguk.

"dan kalo Kepin tadi engga mukul lo, hmm mungkin gue tinggal nama nih sekarang._."jelas Shasha. Panci menatap Kepin (ceritanya Panci suka sama Kepin. Eh engga deh._.v)

"hhmmm sorry ya, tadi gue udah ngomel-ngomel sama lo."sesal Panci.

"iyaa, ga apa-apa kok. Lagi juga ngapain banget gue iri sama idung lo yang mendelep kayak gitu."kata Kepin seraya menunjuk idung Panci._.

"yee gini-gini nih idung semok tau. Limited edition.-."bangga Panci-_-

"udah aah kak, idung lo mau diapain aja juga tetep aja mendelep. Semok darimana, bolongan idung lo tuh yang semok. Mending kita balik ke kamar aja."ledek Shasha. Mereka bertiga kembali ke kamar dengan membawa gelas berisikan air putih yang baru.

"lo bertiga ngambil minum aja lama amat sih. Emang ngantri??._."ucap Ojy.

"ya maaf Jy, tadi si Pance kerasukan tuh."jelas Kepin dan langsung memberikan minuman tersebut ke Dindin.

"eheheh nama gue bukan Pance, tapi Panci. Seenak jidat lo aja ya ngerubah-ubah nama gue"omel Panci.

"udah diem aja lo."suruh Kepin. Panci melirik sinis kearah Kepin (tuhkan si Panci ngelirik Kepin terus, berarti beneran suka u,u).

"tadi maksud lo apa?? Kerasukan??" Tanya Ojy setengah percaya._. Kepin pun menceritakan semua yang tadi terjadi terhadap Panci.

"hah?? Miapa si Panci mau nyekek si Shasha?"tanya Dindin kaget :o. Shasha mengangguk.

"mifasolasido deh (?)tadi kak Panci tanpa sadar nyekek gue."jelas Shasha.

"oh iya. Gimana ceritanya lo bisa kayak tadi?"tanya Panci.

"jadi gini, waktu gue lagi tidur. Gue ngedenger suara anak kecil nangis. Dan waktu gue bangun. Tiba-tiba didepan gue udah ada anak kecil dengan pisau didadanya. Trus anak itu nyabut pisau yang ada didadanya, dan dia ngarahin pisau itu kearah gue."cerita Dindin. Shasha, Kepin, dan Ojy saling pandang.

"berarti firasat gue bener. Pasti anak kecil yang tadi."ucap Kepin.

"iya Pin."kata Ojy.

" yang tadi? maksud kalian apa??"tanya Panci.

"jadi kita bertiga tadi juga ngeliat anak itu. Dan kita juga ngeliat ada orang jatuh dari atap. Tapi waktu gue, Kepin, sama Shasha keluar engga ada siapapun. aneh banget kan?"jelas Ojy.

"hhmm cukup aneh._. Tapi yang lebih aneh, kok kalian bertiga bisa kumpul? Emang engga tidur?"tanya Dindin.

"gue engga bisa tidur. Dan waktu gue keluar kamar, ada Kepin sama Ojy. Daripada bengong mending kita ngobrol-ngobrol aja."jawab Shasha.

"yaudah sekarang kita semua tidur lagi aja."suruh Panci.

"gue engga bisa kak. Apalagi setelah ngalamin kejadian kayak tadi, yang ada kebawa mimpi."kata Shasha.

"betul tuh."ucap Dindin.

"terus kita ngapain?? Mana masih jam 3 lagi. Gue kepingin bakso nih._."keluh Ojy.

"ngaco lo Jy! Mana ada tukang bakso yang lewat jam segini. yang ada tukang bakso jadi-jadian."kata Kepin.

"hhmmm kita duduk diluar aja yukk. Sumpek nih dikamar terus."ajak Dindin. Yang lain pun setuju. Mereka pun berjalan keluar dari kamar. Tapi Shasha masih terdiam dikamar itu. Matanya mulai melihat-lihat disekeliling kamar tersebut. Tidak sengaja Shasha memandang kearah jendela. Tiba-tiba, Shasha dikejutkan dengan sebuah wajah perempuan yang penuh darah menempel dijendela. Seketika itu juga Shasha berteriak dan berlari menghampiri yang lain.

"lo kenapa Sha?"tanya Ojy. Shasha menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

"tadi.... tadi ada hantu yang mukanya penuh darah nempel di jendela."cerita Shasha sembari mengatur nafasnya yang terengah-engah. Kepin pun kembali kekamar. Dan melihat jendela yang ada dikamar itu.

"mana?? Ga ada Sha. Paling cuma halusinasi lo doang."ucap Kepin. Shasha menggelengkan kepalanya.

"tadi ada kok. Bener deh."lirih Shasha.

"udah.. Lupain aja masalah itu. Mungkin itu cuma imajinasi lo aja Sha. Yaudah sekarang kita kumpul di ruang tamu aja sama-sama."ujar Panci. Mereka berlima pun berjalan keruang tamu. Panci menghentikan langkahnya saat melihat sebuh foto keluarga yang terletak dimeja ruang tamu.

"apaan tuh Nci?"tanya Ojy.

"Foto."jawab Panci singkat. yang lain pun menghampiri Panci dan Ojy.

"foto?? Foto siapa??"tanya Kepin. Panci mengangkat bahunya.

"engga tau. Tadi ada diatas meja."jelasnya. Lalu menaruh foto itu ditempatnya semula.

"hhmm kayaknya rumah ini mempunyai misteri yang harus kita pecahin. Banyak kejadian aneh yang kita alamin selama disini, dan semua itu berhubungan dengan mimpi gue"ujar Shasha.

"hhmm mungkin lo bener. Banyak keganjalan yang terjadi dirumah ini. Dan kita harus nyelesain ini semua"ucap Ojy.

"eh eh, diem dulu deh. lo semua denger suara engga?"tanya Dindin. Samar-samar terdengar suara anak kecil sedang menangis. Suara itu lama-lama terdengar semakin jelas. Tak lama kemudian, tangisan itu berhenti menjadi suara teriakan yang sangat memilukan. Mereka berlima yakin kalau teriakan itu berasal dari luar.




Waahh part 3 nya selesai *-* masih jelek ya?? Maaf ya, saya hanya penulis amatiran yang sering mangkal dipinggiran taman lawang u,u makasih yang udah baca cerbung saya, nanti saya kasih karung gratis deh u,u oke see you next part :3

Kamis, 14 Juli 2011

Misteri Rumah di Ladang Jagung Part 2

-Misteri Rumah di Ladang Jagung Part 2-



Hallo B) saya datang membawa part 2. Sekali lagi maaf kalo jelek. oke tanpa banyak bacot, mari cekidot :3




tepat pukul 4 dini hari (subuh), mereka sampai di sebuah rumah semacam villa yang tidak terurus.


"lo yakin Nci, ini rumahnya?"tanya Kepin.

"iya, ini rumahnya, nah itu dihalaman belakangnya ada ladang jagung."jawab Panci.

"Nci emang rumah segede ini ga ditempatin gitu, ya bisa dibilang di sewain gitu?"jawab Dindin.

"dulu ada kok yang nempatin nih rumah, cuma tiba-tiba penghuninya entah ga tau kemana."jelas Panci.

"hah?? Maksudnya ngilang gitu??"tanya Ojy.

"ya bisa dibilang gitu."jawab Panci sekenanya.

"oh iya, gimana kalo kita tidur dimobil aja dulu, ga mungkin kan kita tidur di dalam rumah itu pasti berantakan banget."usul Shasha.

"oke, kita tidur dimobil sekalian nunggu benar-benar pagi (?)."suruh Panci. Mereka pun menurut dan tidur didalam mobil.-.



"Cit cit cit cit cuit cit cit cit cuit burung bernyanyi (?)"kicau burung pun membangunkan mereka.

"udah jam berapa nih?"tanya Kepin setengah sadar.

"jam setengah delapan."jawab Shasha. Ia keluar dari mobil, yang lain pun mengikuti.

"kak, lo bawa kunci nya engga?"tanya Shasha. Panci hanya mengangguk lalu membuka pintu.

"ngekk!(?)" Panci dan yang lainnya masuk. Di dalam sangat kotor dan banyak debu.

"ihh, kotor banget."seru Dindin.

"kayaknya kita harus ngebersihin nih rumah."ucap Ojy.

"iya, mau engga mau harus."kata Kepin. Tiba-tiba saja, ada yang datang dan mengetuk pintu.

"tok.. Tok.. Tok.. Petok.. Petok..(?)"mereka pun kaget. Munculah seorang cowok.

"hallo.."sapa cowok itu.

"hallo, lo siapa?"tanya Panci.

"gue Niel, gue tinggal di rumah sebelah. Oh iya, kalian siapa?tanya Niel.

"gue Panci, dan ini adek gue Shasha. Kita berdua pemilik rumah ini"jawab Panci. Shasha hanya tersenyum.

"oh, kalian anak Pak Sutisno?._."tanya Niel. Panci hanya mengangguk.

"lo kenal sama bokap gue?"tanya Shasha.

"iya, dulu keluarga gue ngurusin ladang jagung punya keluarga lo."jawab Niel. Niel pun mengalihkan pandangannya ke Kepin, Ojy, dan Dindin.

"oh iya, Hai gue Kepin, ini Ojy, dan Dindin."ucap Kepin. Niel hanya mengangguk dan tersenyum.

"Kalian mau nginap disini?"tanya Niel ga yakin.

"iya, makanya kita mau beres-beresin dulu."jawab Shasha.

"hati-hati aja ya."ucap Niel. Panci mengerutkan keningnya.

"maksud lo??"tanya Panci tidak mengerti. Niel terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafas panjang(?).

"dirumah ini ada hantu nya."jawab Niel singkat.

"hah?? hantu? Jangan nakut-nakutin deh."elak Ojy.

"bener, gue pernah liat ada yang ngelempar seseorang dari atas atap rumah ini. Dan waktu gue cek, ga ada siapa pun. selain itu kadang-kadang gue dengar suara tangisan anak kecil gitu. Kalo ga percaya, tanya orang-orang sekitar sini aja, mereka pernah ngalamin kejadian yang sama."cerita Niel.

"persis banget sama mimpi gue."gumam Shasha.

"mimpi?? Maksud lo Sha??"tanya Kepin.

"jadi gini, malam harinya sebelum kita berangkat, si Shasha mimpi, dan dimimpi dia, dia ngeliat ada anak yang seumuran kita dilempar dari atap rumah ini."cerita Dindin.

"mimpi lo sama persis sama kejadian yang pernah terjadi dirumah ini."ucap Niel. Mereka pun terdiam sejenak. Dindin yang agak ganjil melihat suasana seperti ini, langsung angkat bicara dan mengalihkan topik pembicaraan.

"hhmm Niel, lo disini tinggal sama siapa aja??"tanya Dindin.

"sama nyokap dan adek gue, bokap gue kerja di luar kota."jawab Niel.

"adek?? cewe atau cowo?? Umurnya berapa?"tanya Shasha.

"cewe, ya umurnya masih 14 tahun, kalian mau ketemu?? mampir kerumah gue yukk.."ajak Niel. Tanpa ba bi bu be bo (?) mereka menerima ajakan Niel.

"masuk yukk.."ajak Niel. tiba-tiba saja, keluarlah sosok makhluk halus perempuan yang manis.

"ka Niel, kemana aja sih?? Kok lama banget?"tanya perempuan itu.

"Kakak tadi abis dari rumah Pak Sutisno, oh iya nin, kenalin ini Panci dan Shasha, mereka anak Pak Sutisno. Dan ini Kepin, Ojy, dan Dindin, mereka teman Panci dan Shasha."ucap Niel. Perempuan itu tersenyum.

"haii.. Gue Senin." sapa perempuan itu yang bernama Senin selasa rabu kamis jumat sabtu minggu.

"Ibu mana Nin??"tanya Niel.

"itu dihalaman belakang.."jawab Senin.

"oh iya, kalian duduk aja dulu. Gue mau manggil Ibu gue dulu."ucap Niel. "Nin, temenin mereka ya.."lanjutnya. Senin hanya mengangguk.

"Senin, itu ladang jagung yang disamping rumah lo, punya lo ya??"tanya Dindin untuk mencairkan suasana.

"iya"jawab Senin singkat.

"Subur-subur ya haha"komentar Dindin.

"oh iya, gue ke dapur dulu ya, mau ambil minum dulu."Senin pun bangkit dari kubur kursi, dan berjalan kearah dapur. Selang beberapa abad menit, Senin kembali sambil membawa beberapa gelas yang berisi air got putih..

"maaf ya, adanya cuma ginian aja.."ucap Senin, lalu kembali duduk disamping Dindin.

"ga apa-apa kok, makasih ya.."kata Ojy. Senin mengangguk seraya tersenyum. Kemudian datanglah Niel dengan seorang wanita paruh baya yang sudah bisa ditebak kalau wanita itu adalah Ibunya Niel.

"Pagi tante.."sapa Shasha.

"pagi.."sapa Ibu Niel balik.

"kalian mau menginap dirumah itu?? Dan membereskan rumah itu??"tanya Ibu Niel.

"iya tante. Sudah kurang lebih 4 tahun kita engga kesini lagi. Papa udah engga ada, dan kata Mama, saya yang harus mengurus semua aset milik Papa."jelas Panci. Ibu Niel pun terkejut.

"maksud kamu, Pak Sutisno sudah meninggal?"tanya Ibu Niel. Shasha mengangguk.

"Ibu turut berduka cita ya nak."kata Ibu Niel. Panci dan Shasha tersenyum.

"makasih Bu."ucap Shasha.

"hmm, sepertinya kita harus cepat-cepat balik kerumah Bu, kita mau cepat-cepat membersihkan rumah itu."ujar Kepin.

"ohh, iya. Kalau kalian butuh bantuan jangan sungkan ya."ucap Ibu Niel. Mereka berlima pun pamit balik ke rumah.


"oke. Sekarang kita mulai beres-beres!"seru Panci. Mereka pun mulai membersihkan beberapa ruangan dirumah itu.



-Pukul 2 siang di ruang tamu-


"huh.. Capek nya.."keluh Dindin. Mereka semua pun berkumpul di ruang tamu.

"tok tok tok.. Petok.. Petok (?)"seseorang mengetuk pintu. Ojy pun membukakan pintu,Ternyata orang itu adalah Niel dan Senin yang datang dengan membawa makan siang.

"lho, kalian ngapain kesini?"tanya Ojy heran.

"kita kesini mau nganterin makan siang buat kalian, ini Ibu yang nyuruh lho."jelas Senin.

"yaudah yukk masuk."kata Ojy mempersilahkan Niel dan Senin untuk bergabung bersama mereka.

"maaf ya Niel, Senin, kita jadi ngerepotin gini."ucap Shasha.

"ga apa-apa kok, yaudah kalian makan aja dulu. Pasti kalian capek kan."kata Niel. Akhirnya mereka pun makan bersama._.




-Malam Harinya-



"oke, Shasha lo sekamar sama Dindin. Dan kita cowo-cowo, bertiga."kata Panci. Yang lainpun hanya mengangguk tanda mengerti. Mereka pun masuk kekamar yang sudah ditentukan Panci dan beristirahat.




-Sekitar Pukul 11 Malam-



"aduhh gue engga bisa tidur, gimana dong?.-. Hmmm keluar aja deh."Shasha pun beranjak dari kasurnya dan berjalan keluar kamar dengan hati-hati agar Dindin tidak terbangun. saat di luar kamar, ternyata sudah ada Ojy dan Kepin sedang duduk di sofa yang ada didekat jendela lantai 2.

"Haii.."sapa Shasha. Kepin dan Ojy menoleh.

"haii Sha.."sapa balik Kepin dan Ojy.

"lo berdua ngapain disini?"tanya Shasha seraya duduk disamping Ojy.

"lah, lo sendiri ngapain disini??"tanya balik Kepin.

"gue ga bisa tidur."jawab Shasha santai.

"kita juga sama."kata Ojy.

"oh, daripada kita bengong mending kita ngobrol-ngobrol aja disini."usul Shasha. Ojy dan Kepin hanya mengangguk. Mereka memulai obrolan mereka. Mereka bercerita satu sama lain. Terkadang disetiap obrolan mereka diselingi candaan.

"oh iya, hhmm Sha, gue mau tanya... Tentang...."Kepin menggantungkan kalimatnya.

"tentang apa?"tanya Shasha penasaran.

"tentang...... mimpi lo."ucap Kepin ragu-ragu. Shasha terdiam.

"hmm gue...... gue juga engga tau, maksud mimpi gue. Yang jelas mimpi gue sama banget kayak........"belum selesai Shasha bercerita, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka bertiga. Dengan refleks Shasha, Kepin, dan Ojy berdiri dan melihat kearah jendela. Terlihat siluet seperti seseorang yang jatuh dari atap._.


"Pin, suara apaan itu??"tanya Ojy.

"ga tau Jy?.kita cek nih??"kata Kepin. Shasha dan Ojy saling pandang, dan dengan cepat mereka mengangguk tanda setuju. Mereka bertiga pun keluar dari rumah dan berjalan menuju sumber suara itu berasal.


"gue yakin tadi ada yang jatuh ke sini."ucap Kepin.

"iya, gue juga Pin. Tapi kenapa engga ada apa-apapun disini."kata Ojy. Shasha terdiam menatap sesosok gadis kecil yang berjalan ke arah halaman belakang rumah. Kepin dan Ojy yang baru saja melihat hanya bisa menganga.


"Pin..... Anak itu..."Shasha menggantungkan ucapannya.

"iya Sha.. hantu atau bukan sih?"tanya Kepin ngeri.

"ssttt... Lo berdua tenang dulu."ucap Ojy. Kemudian Ojy maju satu langkah. Dan.....

"hay..."seru Ojy. Yap, Ojy menyapa gadis kecil itu. seketika itu juga, gadis itu berhenti lalu menoleh kearah Shasha, Kepin, dan Ojy. betapa terkejutnya mereka melihat sebuah pisau menancap dengan kokoh di dada gadis kecil itu!!!



Kkkyaaaa part 2 nya selesai. Maaf kalo masih jelek, dan tambah jelek._.v kita ketemu di part 3 ya :3 see you next part :))

Senin, 04 Juli 2011

Misteri Rumah di Ladang Jagung Part 1 -CerbungParodi-

-Misteri Rumah di Ladang Jagung Part 1-



hallo B) ibu-ibu, bapak-bapak, semua yang ada sini *ngebor* ehem oke abaikan yang tadi. Disini gue mau coba buat cerbung bergenre horror, cerbung ini sebenarnya terinspirasi dari cerbung ICL yang ada di NING._.v tapi ga tau deh feel nya dapet atau engga._.v oke tanpa banyak bacot, takutnya dibacok, mari cekidot._.v




"Sha, lo inget rumah yang dibeli almarhum papa waktu lo umur 12 tahun kan??"tanya Panci.

"ng... Engga terlalu inget sih kak, emang kenapa?"tanya Shasha balik.

"engga, gue cuma keinget aja sama itu rumah, kita kan tinggal disitu cuma setahun, lagipula rumah itu masih punya papa kan?"jelas Panci.

"oh iya, gue baru inget. Rumah yang papa beli di desa itu kan?? Kalo ga salah yang ada ladang jagungnya ya yang dibelakang rumah."kata Shasha. Panci mengangguk.

"gimana kalo kita jalan-jalan kesana?? Mumpung lagi liburan nih."usul Panci.

"boleh tuh kak, tapi.... Masa kita berdua doang?? Ga seru tau kak. Hhmmm gimana kalo gue ajak temen-temen gue?"ucap Shasha.

"hhmmm boleh tuh, suruh temen lo nginep sini aja, besok kita berangkatnya pagi-pagi."suruh Panci. Shasha hanya menggangguk seraya tersenyum lalu mengambil telepon genggamnya yang berada di atas meja. Dengan segera Shasha menelepon beberapa sahabatnya dan menyuruh mereka untuk menginap dirumahnya.


-----


Sekitar pukul 7 malam. Kepin, Dindin, Ojy datang dengan membawa bawaan mereka masing-masing.

"emang kita mau kemana sih??"tanya Kepin seraya menaruh tasnya disofa.

"tapi kan udah gue bilang sipit, kakak gue ngajak kalian buat liburan di rumah papa gue yang udah lama ga ditempatin itu."jelas Shasha.

"hah?? Rumah bokap lo yang dimana??"tanya Ojy.

"yang di desa."jawab Shasha singkat. "jadi kalian ikut engga? Masa iya gue cuma berdua sama kak Panci, ga seru banget."lanjutnya.

"iya kita ikut kok, lagi juga bosen liburan di Jakarta terus haha"ucap Dindin. Shasha tersenyum. Tak berapa lama, Panci pun datang menghampiri mereka berempat yang sedang mengobrol ringan (?).

"heh, kalian udah dateng, jadi ikut nih??"tanya Panci dan duduk disamping Ojy.

"ikut lah Nci lumayan lah buat refreshing.-."jawab Kepin.

"oh yaudah lo semua istirahat aja sana. Dindin, lo tidur dikamar Shasha. Nah lo, cowo cowo blangsak lo semua tidur di kamar gue."suruh Panci. Semuapun mengikuti perintah Panci.


-----


Sekitar pukul 2 dini hari. Shasha terbangun karena ia baru saja mengalami mimpi buruk. Untuk menghilangkan rasa takutnya, Shasha pun mencoba membangunkan Dindin yang sedang tertidur lelap di sampingnya.

"Din.. Dindin.. Bangun.."lirih Shasha. Dindin pun bangun.

"ada apa Sha?"tanya Dindin setengah sadar.

"gue tadi mimpi Din, tapi aneh banget."jawab Shasha.

"mimpi aneh?"tanya Dindin engga yakin. Shasha hanya mengangguk.

"iya, gue ngeliat peristiwa pembunuhan di mimpi gue, pokoknya ngeri banget deh Din. Ada seorang anak kecil yang dadanya tusuk sampai berkali-kali, dan ada seorang perempuan kira-kira dia seumuran dengan kita yang dilempar dari atap rumah.gue.... Gue ga tau dan ga kenal sama sekali mereka"jelas Shasha. Dindin terkaget.

"maksud dari mimpi lo apa Sha??"tanya Dindin takut.

"gue... Gue engga tau Din."jawab Shasha lemas. Mereka terdiam sejenak...

"udah lah Sha, mungkin itu cuma mimpi buruk lo aja, lebih baik kita tidur lagi yukk."ucap Dindin mencoba menenangkan Shasha. Shasha masih terdiam, dia masih memikirkan mimpi yang dia alami tersebut. ya menurut Shasha mimpi itu seperti nyata, bukan tanpa sengaja seperti mimpi-mimpi yang lain(?).

"Sha.. Udah jangan dipikirin lagi.."tegur Dindin. Shasha tersadar dari lamunanya.

"eh, iya Din.."ucap Shasha, dan mencoba untuk memasuki alam mimpinya kembali.



-Keesokan Harinya-


"Ma, kita berangkat dulu ya.."Pamit Shasha pada Bu Sartini,Mamanya Panci dan Shasha.-.

"kalian yakin engga mau di antar Pak Solihin._."tawar Bu Sartini.

"engga usah Ma, biar Panci aja yang bawa mobil, Mama baik-baik ya dirumah."kata Panci dan mendekati mobilnya yang sudah terparkir rapi di halaman rumahnya.

"yasudah hati-hati ya.."pesan Bu Sartini. Panci hanya tersenyum. lalu masuk ke dalam mobil yang didalamnya sudah terdapat Shasha, Ojy, Kepin, Dindin.


"Dari sini ke Desa berapa lama Nci??"tanya Dindin.

"kira-kira kita baru sampai sana nanti malam."jawab Panci.

"heh? buset jauh amit."komentar Ojy. Tiba-tiba Panci menghentikan mobilnya.

"lho, kenapa berhenti kak?"tanya Shasha yang baru saja sadar kalo Panci menghentikan mobilnya.-.

"kayaknya kita harus lewat jalan lain deh."kata Panci seraya menunjuk ke arah depan.

"hah?? Gilaa rame banget disitu. Ada kecelakaan kayaknya."kata Dindin.

"ada jalan lain ga Nci?"tanya Kepin.

"ada, tapi lebih jauh. Kemungkinan besok pagi kita baru sampai disana."ucap Panci. Panci mulai memacu mobilnya ke jalan lain.

"oh iya, kita nanti ngelewatin hutan lho."ucap Panci mengingatkan.

"hah?? Hutan?? hmm Nci, emang ga ada jalan lain apa, selain lewat hutan?"tanya Dindin. Panci hanya menggeleng.

"yaahh.."terdengar nada kecewa dari Dindin.

"emang kenapa sih Din?"tanya Ojy.

"horror aja gitu kayaknya, malem-malem lewat hutan."jawab Dindin. Ojy tertawa kecil.

"ga bakal ada apa-apa kok. Tenang aja"kata Ojy menenangkan Dindin.

"Sha, sekarang jam berapa?"tanya Kepin.

"masih jam 12, emang kenapa?? Muka lo minta dijejelin makanan tuh.-."jawab Shasha sedikit meledek.

"hehe tau aja.-. Nci, makan dulu yukk, gue laper nih."ajak Kepin.

"oke. Mumpung masih di daerah rame, kita makan siang dulu."kata Panci. Panci memarkirkan mobilnya tepat didepan sebuah rumah makan. Mereka berlima pun makan disana. beberapa menit kemudian, semua siap melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka lalui sekarang sudah cukup sepi. Hanya ada beberapa mobil yang masih berkeliaran disepanjang jalan (?). Jam tangan Shasha pun sudah menunjukan pukul 18.00 tepatnya jam 6 sore. Matahari sudah letih memancarkan sinarnya. Sepertinya sebentar lagi tugasnya akan digantikan dengan sang bulan.


"Nci, lo udah capek ya?? Sini deh gantian gue yang nyetir."kata Ojy. Panci hanya mengangguk. Ia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan raya. Dengan segera Ojy menggantikan posisi Panci dibangku pengemudi.-. Sekitar pukul 8 malam, mereka sudah memasuki kawasan hutan. Suara gorilanya panci pun mulai terdengar (?).

"kak Panci, masih lama ya nyampenya?"tanya Shasha.

"kan gue bilang tadi kita sampe sana, kayaknya pagi, lo kemana aja sih makanya kuping dipasang -,-"kata Panci.

"makanya kalo punya idung dipasang (?)"ledek Shasha. Panci langsung melirik sinis. Sedangkan Shasha hanya cekikikan (?).

"elo sih Sha, galau terus (?)"Kepin pun ikut-ikutan ngeledek -_-

"apa hubungannya coba -,-"ujar Shasha.

"karena idungnya Panci mendelep (?)"Panci yang merasa tersungging eh tesinggung hanya cemberut.-.v ketika yang lain sedang asik bercanda, tiba-tiba saja Ojy dengan spontan mengerem.

"aww... Ada apa sih Jy??"tanya Dindin yang sedari tadi tertidur.

"tadi.. Tadi ada seorang perempuan lewat dan ga sengaja gue nabrak tuh orang."cerita Ojy dan langsung menutup mukanya dengan telapak tangannya.

"hah?? Nabrak orang??"tanya Panci ga percaya. Ojy hanya mengagguk. tiba-tiba Kepin turun dari mobil. dengan cepat yang lain pun juga ikut menyusul Kepin.

"mana Jy?? Ga ada apa-apa kok"ucap Kepin melihat sekeliling hutan tersebut.

"tapi tadi gue ngerasa nabrak cewe disini Pin."ucap Ojy yakin.

"tapi coba lo liat disekeliling lo, ga ada siapa-siapa Jy, cuma pepohonan, lagi pula mana ada orang apalagi cewe yang lewat hutan jam segini. Aneh-aneh aja lo. Mungkin itu cuma halusinasi (bener engga sih? -,-v) lo doang"ujar Kepin. Shasha hanya diam, matanya terus menatap lurus kearah sudut hutan (?) dia melihat seorang perempuan berambut panjang mengenakan daster batik putih(?), wajahnya pucat. Walaupun Shasha tidak melihatnya dengan jelas karena suasana hutan yang gelap tapi dia bisa merasakan ada yang beda dari perempuan itu.

"Sha.."panggil Dindin. Shasha pun mengedarkan pandangannya kearah Dindin.

"apa Din??"tanya Shasha.

"lo kenapa sih?? Aneh banget. Udah ayo kita jalan lagi."kata Panci dan kembali ke dalam mobil. Shasha kembali mengedarkan pandangannya ke arah dimana perempuan tersebut berada dan ternyata.......... Perempuan yang tadi dilihat Shasha pun sudah tidak ada ditempatnya.-. Shasha pun menggelengkan kepalanya, mencoba melupakan kejadian tadi. Aah mungkin hanya imajinasi ku saja, pikirnya.



Waaww part 1 udah selesai!! Maaf ya kalo jelek u,u masih ada beberapa tokoh lagi yang belum nongol.-.v jadi tungguin aja distasiun gambir (?). Sekian dari saya, wassalam.